Pengobatan Tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta

2 06 2008

Sistem pengobatan tradisional merupakan sub unsur kebudayaan masyarakat sederhana, pengetahuan tradisional. Dalam masyarakat tradisional sistem pengobatan tradisional ini adalah pranata sosial yang harus dipelajari dengan cara yang sama seperti mempelajari pranata sosial umumnya dan bahwa praktek pengobatan asli (tradisional) adalah rasional dilihat dari sudut kepercayaan yang berlaku mengenai sebab akibat. Demikian Wellin yang dikutip Foster dan Anderson (1986).

Konsepsi orang Jawa tentang “sehat” dan “sakit”

Dr. Seno Sastromidjojo (1962) mengatakan bahwa pada hakekatnya tubuh itu tidak berdiri sendiri di tengah alam semesta, melainkan berhubungan erat dengan segala sesuatu di sekitarnya, dapat berupa benda dan atau bersifat spiritual, dapat dikatakan bahwa mikrokosmos (manusia) dan makrokosmos (alam semesta) merupakan satu kesatuan tunggal. Kesatuan tersebut, mikrokosmos dan makrokosmos itu harus selalu berada dalam keadaan yang seimbang. Jika keseimbangan itu tidak terganggu, maka kita merasa tenang, sehat. Jika keseimbangan tadi terganggu, maka timbullah bentrokan antara yang ada dalam tubuh dengan kekuatan yang ada di luar. Bentrokan ini berakibat manusia menjadi “sakit”.

Menurut orang Jawa, “sehat” adalah keadaan yang seimbang dunia fisik dan batin. Bahkan semua itu berakar pada batin. Jika “batin karep raga nututi”, artinya batin berkehendak, raga/badan akan mengikuti. Sehat dalam konteks raga berarti “waras”. Apabila seseorang tetap mampu menjalankan peranan sosialnya sehari-hari, misalnya bekerja di ladang, sawah, selalu gairah bekerja, gairah hidup, kondisi ini dikatakan sehat.

Pada saat menjalankan kegiatan mulai terganggu, barulah dikatakan tidak sehat (sakit). Demikian juga persepsi sehat pada anak-anak dikaitkan dengan kemauan makan dan kelincahan atau kegairahan anak untuk bermain, tidak lemah badan. Meskipun anak pilek, batuk-batuk tetapi kalau selalu tetap bergairah makan dan bermain dengan teman-temannya, ia dikatakan “sehat”. Jadi ukuran sehat bagi abak-anak adalah apabila kemauannya untuk makan tetap banyak dan selalu bergairah main.

Sebab dan pengobatannya

Untuk menemukan sebab-sebab suatu penyakit dan penentuan pengobatannya, ada dua konsep yang lazim dipakai dalam masyarakat Jawa, yakni konsep personalistik dan konsep naturalistik.

Dalam konsep personalistik, penyakit disebabkan oleh intervensi dari suatu agen (perantara) aktif yang dapat berupa makhluk supernaturan (makhluk gaib atau dewa), makhluk yang bukan manusia (seperti hantu, roh leluhur, roh jahat) dan manusia (tukang sihir, tukang tenung). Di kalangan masyarakat Jawa menyebut penyakit sebagai akibat gangguan faktor supernatural atau personalistik itu sebagai penyakit “ora lumrah” atau “ora sabaene” (tidak wajar atau tidak biasa). Dalam hal ini penyembuhannya berdasarkan pengetahuan secara gaib atau supernatural, misalnya melakukan upacara dan sesaji. Upacara ini dimaksudkan untuk menetralisir atau membuat keseimbangan agar sebab sakit dapat dikembalikan pada asalnya, sehingga orang tersebut sehat kembali. Dilihat dari segi personalistik jenis penyakit ini terdiri dari kesiku, kebendhu, kewalat, kebelisan, kelebon, keguna-guna atau digawe wong, kampiran bangsa lelembut dan lain sebagainya. Biasanya penyembuhan penyakit seperti ini melalui seorang dukun atau “wong tua”.

Pengertian dukun bagi masyarakat Jawa adalah seseorang yang pandai atau ahli dalam mengobati penyakit melalui “Japa Mantra”, yakni doa yang diberikan oleh dukun kepada pasien. Pemberian doa ini dibedakan dua macam, secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung doa dibacakan di hadapan pasien, sedangkan secara tidak langsung doa ditulis pada sehelai kertad lalu dicelupkan pada air dalam gelas kemudian diminum oleh pasien. Cara yang terakhir ini biasanya disebut dengan “dilemari”. Lemari ini bisa dengan cara dioleskan pada bagian tubuh yang sakit (dilomoti).

Ada beberapa kategori dukun pada masyarakat Jawa yang mempunyai nama dan fungsi masing-masing:

a. Dukun Bayi: Khusus menangani penyembuhan terhadap penyakit yang berhubungan dengan kesehatan bayi, dan orang yang hendak melahirkan.

b. Dukun Pijat/tulang (sangkal putung): Khusus menangani orang yang sakit terkilir, patah tulang, jatuh atau salah urat.

c. Dukun Klenik: Khusus menangani orang yang terkena guna-guna atau “Digawe uwong”.

d. Dukun Mantra: Khusus menangani orang yang terkena penyakit karena kemasukan roh halus.

e. Dukun Hewan: Khusus mengobati hewan.

Sedangkan konsep naturalistik, penyebab penyakit bersifat natural dan mempengaruhi kesehatan tubuh, misalnya karena cuaca, iklim, makanan, racun, bisa, kuman atau kecelakaan. Di samping itu ada unsur lain yang mengakibatkan ketidakseimbangan dalam tubuh, misalnya dingin, panas, angin atau udara lembab. Oleh masyarakat Jawa hal ini biasa disebut dengan penyakit “Lumrah” atau biasa.

Adapun penyembuhannya dengan model keseimbangan dan keselarasan, artinya dikembalikan pada keadaan semula sehingga orang sehat kembali. Misalnya orang sakit masuk angin penyembuhannya dengan cara “kerokan” agar angin keluar kembali. Begitu pula penyakit badan dingin atau biasa disebut “drodhok” (mengigil kedinginan), penyembuhannya dengan minum jahe hangat atau melumuri tubuhnya dengan air garam dan dihangatkan dekat api.

Di samping itu juga banyak pengobatan yang dilakukan dengan pemberian ramuan atau “djamoni”. Jamu adalah ramuan dari berbagai macam tumbuhan atau dedaunan yang dipaur, ditumbuk, setelah itu diminumkan atau dioleskan pada bagian yang sakit.

Pemberian jamu biasanya dilakukan sebagai pertolongan pertama si sakit. Apabila usaha ini tidak berhasil biasanya si sakit dibawa pada seorang dukun, sesuai dengan kepercayaannya dukun mana yang harus didatangi. Misalnya untuk penyakit yang hubungannya dengan tulang seperti reumatik, sakit pinggang, keseleo dan sebagainya, pada umumnya oleh sang dukun diobati dengan bobo beras kencur dan jeruk nipis. Di samping itu ada juga ramuan tumbuhan lain sebagai pelengkap, misalnya kulit pohon randu yang sudah diberi mantra.

Contoh resep tradisional Sakit Kuning (Lara Kuning)

Penyakit ini menurut tradisi setempat tidak diketahui penyebabnya, namun menurut ilmu kedokteran disebabkan oleh virus.

Cara pengobatan dengan ramuan jamuan tradisional:

1. Temulawak (curcuma manthoriza roxb) segar diparut, diperas dan airnya diminumkan dua kali sehari satu sendok makan, dapat ditambah sedikit gula batu.

2. Kira-kira lima belas iris temulawak kering dan satu sendok the daun meniran disedu dengan air panas satu gelas, diminumkan dua kali sehari satu gelas dengan sedikit gula merah atau gula batu.

3. Air kelapa hijau dengan madu lebah. Satu kelapa cukup untuk satu hari. Daging kelapa muda dapat dimakan sekaligus, tidak boleh dimakan kelapa yang sudah tua.

4. Pisang emas dimakan bersamaan dengan kutu kepala (Jawa: tuma), tiga kali sehari, sampai sembuh.

Penyakit influenza (Jawa: watuk greges-greges). Penyebab penyakit menurut masyarakat Jawa adalah “angin kasep”. Menurut kedokteran disebabkan oleh virus.

Cara pengobatannya: daun sembung (blumea basamivera D.C) dan daun kaki kuda (hydricityle asiacita linn), masing-masing satu bagian kemudian ditumbuk halus. Kemudian satu sendok the campuran ini disedu dengan air panas satu angkir. Setelah diberi gula dapat diminum tiga kali sehari.

Sumber:

Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.





Makna Ajaran “Wong Urip iku Mung Mampir Ngombe”

2 06 2008

Secara harafiah, “Wong urip iku mung mampir ngombe” dapat diartikan orang hidup itu hanyalah istirahat sejenak untuk minum. Meskipun ungkapan tersebut mempunyai arti yang sederhana tetapi makna yang terkandung sangat dalam. Untuk dapat memahami makna ungkapan itu kita dituntut untuk memahami kehidupan manusia secara menyeluruh. Dalam budaya Jawa kehidupan manusia dimulai semenjak tumbuhnya bayi dalam kandungan ibu kemudian setelah bayi dilahirkan ke dunia, dimulailah kehidupan yang sebenarnya dunia. Dengan kematian seseorang, yaitu berpisahnya roh dan wadag manusia, dimulailah kehidupannya di alam lain yang belum kita ketahui pasti. Pemahaman tentang tiga kehidupan ini biasa dimanifestasikan sebagai alam purwa, madya dan wasana. Makna ungkapan “Wong urip itu mung mampir ngombe” mengacu kepada alam madya, yaitu kehidupan setelah manusia dilahirkan di dunia.

Mengisi Kehidupan yang Sesaat

Seperti kita ketahui manusia terlahir di dunia ini berbekal empat sifat dasar yang mewarnai kehidupannya, yang sering diistilahkan dengan aluamah, sefiah, amarah dan mutmainah, atau yang biasa juga diistilahkan dengan nafsu angkara, amarah, keinginan dan perbuatan suci. Nafsu-nafsu tersebut timbulnya dirangsang oleh anasir-anasir yang ada di dunia ini dan masuk melalui paningal (mata), pengucap (mulut), pangrungu (telinga) dan pangganda (hidung).

Anasir alam yang masuk melalui mata berwujud nafsu keinginan akibat rangsangan sesuatu yang terlihat oleh mata. Anasir alam yang masuk melalui mulut berupa kata-kata kotor yang diucapkan oleh mulut. Anasir alam yang masuk melalui telinga berwujud suara yang tidak enak didengar oleh telinga dan menyebabkan seseorang marah, kasar dan mata gelap. Sedangkan anasir alam yang masuk melalui hidung berwujud tindakan-tindakan baik karena hidung tidak mau menerima bau-bau yang tidak enak. Dengan bekal empat sifat dasar hidup itu, manusia diwajibkan menguasai keempat nafsu yang melekat pada dirinya. Dengan kata lain, manusia harus menguasai ketiga nafsu yang dapat menimbulkan tindakan-tindakan yang kurang baik, yaitu aluamah, amarah dan sufah, dan mengutamakan nafsu yang dapat menimbulkan tindakan-tindakan baik, yaitu mutmainah. Menguasai di sini diartikan sebagai memelihara mengatur ataupun mengendalikan. Apabila manusia dapat memelihara mengatur serta mengendalikan keempat nafsu-nafsu tersebut akan menjadi manusia teladan dalam arti dapat diteladani oleh orang-orang disekitarnya karena tindakan-tindakannya selalu terpuji.

Sebaliknya apabila manusia tidak dapat memelihara mengatur serta mengendalikan keempat nafsu-nafsunya, orang tersebut akan menampilkan tindakan-tindakan yang tidak terpuji, sehingga ia dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya, oleh karena itu kehidupan di dunia yang hanya sesaat tersebut, yang dalam budaya Jawa diungkapkan istlah “wong urip iku mung mampir ngombe”, haruslah disibukkan dengan tindakan-tindakan memelihara, mengatur serta mengendalikan keempat nafsu manusia ini, sehingga kehidupan di dunia yang sifatnya hanya sesaat tersebut diisi dengan tindakan-tindakan terpuji, seperti tolong-menolong, mengasihi sesama, berbakti kepada nusa dan bangsa, saling hormat-menghormati, bermusyawarah untuk mencapai mufakat dan lain-lain. Dengan demikian apabila pada saat kematian, yaitu berpisahnya roh dan wadag manusia dapat diharapkan roh manusia tersebut akan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu causa pria segala kehidupan di dunia ini.

Selamat sampai Tujuan

Kehidupan di dunia ini dapat diibaratkan sebagai perang antara nafsu baik dan nafsu yang tidak baik. Agar manusia dapat memenangkan perang tersebut, sehingga pada saat kematian rohnya kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa, manusia harus dapat menempatkan hati nuraninya di atas nafsu. Dengan kata lain, hati nurani manusia haruslah menguasai nafsu. Jika hati nurani dikuasai oleh nafsu pada saat kematian roh manusia dapat kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bagaimana agar seseorang dapat menjaga hati nuraninya selalu berada di atas nafsu? Budaya Jawa mengajarkan agar seseorang selalu menjalani laku, seperti berpuasa dan lain-lain, sebagai latihan pengendalian diri sehingga dapat mengendalikan diri apabila timbul rangsangan untuk bertindak yang tidak baik. Selain itu budaya Jawa juga mengajarkan agar seseorang selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga selalu mendapatkan terang dari-Nya yang akan menyebabkannya dapat berpikir secara jernih dan bersih.

Tujuan hidup manusia adalah selamat di dunia maupun di alam kelanggengan. Untuk dapat mencapai tujuan itu manusia dituntut untuk terus menerus berjuang menegakkan kebenaran. Dalam kehidupan di dunia yang sesaat, manusia harus dapat mengisinya dengan tindakan baik. Oleh karena itu budaya Jawa selalu mengingatkan bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara sifatnya. Peringatan tersebut diungkapkan dalam istilah “wong urip iku mung mampir ngombe”. Apabila seseorang selalu ingat akan hal ini dan mengisi kehidupan sesaat dengan tindakan baik, maka dapatlah diharapkan tujuan hidup seseorang akan tercapai, yaitu selamat di dunia maupun di alam kelak nanti.

Sumber:

Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.